jump to navigation

MUHAMMADIYAH BUKAN NU 17 Februari 2015

Posted by Ms Dhukha in Artikel.
trackback

10475887_10202317941738442_555396210_n

” MUHAMMADIYAH ITU NU”. HANYA TULISAN ROMAN PICISAN

Sebelumnya saya mohon maaf bila nantinya ada pembaca atau ormas yang tersinggung dengan tulisan saya di blog ini.

INILAH FAKTA SEJARAHNYA
Membaca Sejarah Tantang mendirikan “Muhammadiyah” oleh KH. Ahmad Dahlan tidak sekedar di baca dari aspek konsumtif ajaran qunut dan taraweh 23 belaka yang sama dengan NU. tetapi harus dilihat dari kaca mata sejarah secara menyeluruh.

Bila dilihat dari sudut Syafiiyah misalnya, seorang KH. Ahmad Dahlan adalah pengikut murni mazhab Imam Syafii. Karena melangkahnya KH. Ahmad Dahlan di Muhammadiyah tidak berhenti pada satu titik “Syafiiayah Belaka” tetapi juga menebas keyakinan masyarakat Islam jawa yang sarat dengan TBC. [Tahayuul, Bid’ah Churafat= ejaaan lama]. Maraknya berbagai kepercayaan di Islam jawa ketika itu yang kemudian menjadi ilham NU sekarang ini bukanlah ajaran yang di junjung KH. Ahmad Dahlan. Beliau anti dan sangat antusius berdakwah menerangkan kepercayaan kepercayaan aliran kepercayan islam jawa yang tak meninggalkan tauhid kecuali di ramu sedemikian rupa.

Yang perlu di catat pertemuan KH. Ahmad Dahlan dengan kelompok Ulama Sumatera telah banyak menghasilkan corak dan pembenahan di Muhammadiyah dari berbagai aspek. Misalnya pertemuan dengan Abdul Malik Karim Amrullah, bapak Buya Hamka. telah memberikan pengaruh tersendiri. Namun Serikat Islam yang mewadahi Islam tradisional ketika itu telah menuduh KH. Ahmad Dahlan sebagai pemecah persatuan umat, berbagai tuduhan dilemparkan ke Muhammadiyah. Itu terjadi sebelum KH. Ahmad Dahlan mangkat menuju sang pencipta.

Kalau membaca dari silsilah misalnya : Silsilahnya lengkapnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH Abu Bakar bin KH Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlul’llah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6). Dapat gambaran baru, Maulana Malik Ibrohim orang yang anti TBC, darah itulah yang mengalir kepada KH. Ahmad Dahlan, sama dengan asal muasalnya, sama sama menolak Bid’ah. Gambaran lain misalnya, “Maulana Malik Ibrohim” yang dinisbatkan kepada Nabi “Ahlul Bait”. Sudah jelas Nabi anti syirik tak sejalan dengan syirik syirik yang sekarang ngetrend.

Ini tulisan KH. Ahmad Dahlan yang diterjemahkan oleh pak Jarnawi : BUNYINYA DEMIKIAN: “WAHAI DAHLAN, SUNGGUH DI DEPANMU ADA BAHAYA BESAR DAN PERISTIWA-PERISTIWA YANG AKAN MENGEJUTKAN ENGKAU, YANG PASTI HARUS ENGKAU LEWATI. MUNGKIN ENGKAU MAMPU MELEWATINYA DENGAN SELAMAT, TETAPI MUNGKIN JUGA ENGKAU AKAN BINASA KARENANYA. WAHAI DAHLAN, COBA ENGKAU BAYANGKAN SEOLAH-OLAH ENGKAU BERADA SEORANG DIRI BERSAMA ALLAH, SEDANGKAN ENGKAU MENGHADAPI KEMATIAN, PENGADILAN, HISAB, SURGA, DAN NERAKA. DAN DARI SEKALIAN YANG ENGKAU HADAPI ITU, RENUNGKANLAH YANG TERDEKAT KEPADAMU, DAN TINGGALKANLAH LAINNYA (DITERJEMAHKAN OLEH DJARNAWI HADIKUSUMO).

Membuktikan kalau tantangan yang akan dihadapi KH. Ahmad Dahlan adalah tantang besar, yang bisa membunuh dirinya. Aneh saja kalau ada yang berlagak pahlawan, kesiangan lagi, menulis ceritak fiktif yang membodohkan warga. Dengan banyolan-banyolan “Muhammadiyah adalah NU. Kenapa demikian, NU bukan Muhammadiyah yang sejak awalnya anti TBC. NU adalah NU, hal itu tak terdapat pada KH. Ahmad Dahlan.

Macam KH. Hasyim Asy’ary yang anti Maulidan model sekarang, justru sekarang di budayakan, sudah biasa ikhtilat wanita dan laki laki dalam berbagai acara maulidan dan pengajian. Kalau sekarang menarik KH. Ahmad Dahlan dalam tulisan prematur itu, membuktikan si penulis kehilangan semangat Jihadnya untuk membedakan yang benar dan yang salah, alias terlalu okol bukan akal. Coba penulis perhatikan kekejaman kelompok Islam pra sejarah NU itu. Dalam bulan Oktober 1922, Ahmad Dahlan memimpin delegasi Muhammadiyah dalam kongres Al-Islam di Cirebon. Kongres ini diselenggarakan oleh Sarikat Islam (SI) guna mencari aksi baru untuk konsolidasi persatuan ummat Islam.

Dalam kongres tersebut, MUHAMMADIYAH DAN AL-IRSYAD (PERKUMPULAN GOLONGAN ARAB YANG BERHALUAN MAJU DI BAWAH PIMPINAN SYEIKH AHMAD SYURKATI) TERLIBAT PERDEBATAN YANG TAJAM DENGAN KAUM ISLAM ORTODOKS DARI SURABAYA DAN KUDUS. MUHAMMADIYAH DIPERSALAHKAN MENYERANG ALIRAN YANG TELAH MAPAN (TRADISIONALIS-KONSERVATIF) DAN DIANGGAP MEMBANGUN MAZHAB BARU DI LUAR MAZHAB EMPAT YANG TELAH ADA DAN MAPAN. Kejadian ini terjadi di akhir perjalan dakwah beliau di Muhammadiyah, karena sesudah kejadian itu beliau meninggal.

Karena sikap Imam Ahmad Dahlan yang antipati dengan TBC itulah muncul anti pati dalam serikat Islam yang menuduh Ahmad Dahlan Dan Syurkati Dengan Islam Ortodok. Waktu Syaikh Surkati sudah dikenal dengan pelaksanaan Ibadahnya yang anti Bid’ah, bahkan mendukung KH. Ahmad Dahlan dalam acara tersebut. Ini bukti kalau KH. Ahmad Dahlan Bukan NU, yang sekarang menjadi pelopor para pembangkang sebagaimana terjadi dalam SI, serikat Islam tahun 22 tersebut.

INI jawaban KH. Ahmad dahlan kepada pendukung TBC di SI : “MUHAMMADIYAH BERUSAHA BERCITA-CITA MENGANGKAT AGAMA ISLAM DARI KEADAAN TERBEKELAKANG. BANYAK PENGANUT ISLAM YANG MENJUNJUNG TINGGI TAFSIR PARA ULAMA DARI PADA QUR’AN DAN HADITS. UMAT ISLAM HARUS KEMBALI KEPADA QUR’AN DAN HADITS. HARUS MEMPELAJARI LANGSUNG DARI SUMBERNYA, DAN TIDAK HANYA MELALUI KITAB-KITAB TAFSIR”. Ini menunjukkan memang orang-orang Muhammadiyah harus kembali pada Quran dan Sunah, toh kalau kemudian terjadi perubahan tak ada qunut dan berbagai amalan yang pernah di klaim NU, karena itu kehendak KH. Ahmad Dahlan sendiri yang menghendaki kembali pada Quran dan Sunah. lihat perkataan KH. Ahmad Dahlan justru mengkritisi tafsir para Ulama. Itu bukti KH. Ahmad Dahlan menuntut warga Muhammadiyah tidak taqlid walaupun kepada dirinya sendiri.

PEMBAKARAN MUSHOLLA KH. AHMAD DAHLAN
Buat pertama kalinya nama Kyai Haji Ahmad Dahlan menjadi bahan pembicaraan masyarakat, khususnya masyarakat Yogyakarta, ialah ketika beliau dalam tahun 1896 membetulkan arah kiblat di langgar-langgar dan masjid-masjid di Yogyakarta. Biasanya tempat-tempat ibadat itu menghadap ke timur dan orang bersembahyang menghadap lurus-lurus ke barat. Berdasarkan ilmu falak, cabang ilmu yang sangat dikuasai Dahlan, arah kiblat dari pulau Jawa condong kira-kira 24,5 derajat ke utara. Dengan dasar itulah beliau membetulkan garis-garis saf di mesjid besar Yogyakarta. Masyarakat menjadi goncang dan reaksi pun datang. Garis-garis saf yang dibuat Ahmad Dahlan dihapus, beliau dicacimaki, bahkan suraunya sendiri dibakar orang. Barulah kemudian masyarakat menyadari bahwa apa yang dilakukan Dahlan adalah benar.

Ini sebuah penobatan sejarah, bagaiamana sikap umat islam kala itu yang buta agamanya, justru melakukan sikap sikap arogan, yang mengancam keselamatan KH Ahmad Dahlan dan Istrinya yang di ancam akan dijadikan budak dan akan diperkosa oleh Islam adat yang ortodok, selain menuduh KH. Ahmad Dahlan sebagai Kyai Palsu. Mengerikan sejarah KH. Ahmad Dahlan.

RENCANA PEMBUNUHAN TERHADAP KH. AHMAD DAHLAN
Pada waktu berdakwah di Banyuwangi beliau diancam akan dibunuh karena beliau tidak bersedia menjawab pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan Muhammadiyah. Para penantangnya berteriak, ”Dahlan kalah, Dahlan kyai palsu.” Ia pun diancam akan dipancung dan isterinya akan dijadikan pelayan, kalau berani datang lagi ke Banyuwangi. Tetapi Ahmad Dahlan tidak gentar menghadapi tantangan itu. Pada waktu yang sudah ditentukan beliau kembali ke Banyuwangi, walaupun teman-temannya meminta supaya niat itu dibatalkan. Polisi Banyuwangi pun menganjurkan agar kembali ke Yogya. Ahmad Dahlan hanya menjawab, ”Kalau orang-orang yang durhaka sampai berani berbuat demikian, mengapa kita yang berkewajiban menyiarkan ajaran yang benar harus takut dan kurang berani? Saya akan berbuat kebaikan dengan menerangkan agama yang benar, tetapi mereka akan berbuat jahat dengan membunuh saya. Mengapa orang yang berbuat kebaikan yang saudara larang, bukan mereka yang bermaksud jahat?”

Sikap KH.Ahmad Dahlan, pantang mundur menghadapi ahlul bid’ah di Banyuwangi kalah itu, beliau bisa menggertak siapa saja, KH. Ahmad sosok yang berani mati, yang semestinya ini juga harus dimiliki semua warga Muhammadiyah. Seandainya KH. Ahmad Dahlan Masih hidup, mungkin sudah pasti menyerukan untuk melakukan jihad anti TBC di Indonesia, sudah pasti akan banyak kelompok di Indonesia ini yang akan di perangi. Ini tulisan saya ala kadarnya, menanggapi buku Prahara : Muhammadiyah itu NU, semoga penulisnya tidak sekedar mencari Uang, tetapi bisa obyektif dalam menulis.

Mohon maaf bila ada komentar yang nantinya tidak dibalas, agar tidak terjadi perdebatan di blog ini.

Artikel dari : https://www.facebook.com/KomunitasMuslimAntiBidah

Picture : sangpencerah.com

Silahkan Komentar, Mohon Maaf Kalo Tidak Sempat Dibalas

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: